Senin, 23 September 2019

RESUME BUKU GURU NOW UNTUK KIDS ZAMAN NOW


RESUME BUKU





1.     Judul Buku                  : GURU NOW UNTUK KIDS ZAMAN NOW
2.     Penulis                       : Alifiana Nufi
3.     Editor                        : Tim Editor
4.     Desain Sampul            : Amalia Asrari
5.     Penerbit                     : DIVA Press
6.     Alamat Penerbit          :Sampangan Gg. Perkutut No. 325-B Jl. Wonoasri
  Baturetno Banguntapan Yogyakarta
7.     Tahun Terbit               : 2018
8.     Jumlah Halaman          : 64 halaman, 7 Bab
9.     Cetakan                     : Pertama


BAB I
UCAPAN DOSEN YANG MENGGELITIK HATI

1.     Menjadi guru memang bukan pilihan utama setelah lulus dari SMA.
2.     Menjalani kuliah dengan setengah hati, karena belum rela menjadi guru.
3.     Jaranng ada anak dengan peringkat atas yang mau menjadi guru.
4.     Peringkat tidak menjamin kepintaran orang dalam menyampaikan pelajaran.
5.     Profesi guru di negara maju yang dipilih adalah orang-orang dengan peringkat atas.
6.     Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru.

REFLEKSI :
Menjadi guru adalah pekerjaan pengadian, maka dibutuhkan motivasi yang kuat untuk menjalaninya. Jika profesi guru dilaksanakan hanya untuk “tidak mengganggur”, hasilnya ya biasa-biasa saja, mungkin cenderung merugikan sekolah tempat mengajarnya. Guru harus punya sumbangsih yang signifikan minimal pada tempat ia mengajar, lebih-lebih prestasi yang bisa mengharumkan nama negara dan bangsa.


BAB II
MOTOR NINJA MENINGKATKAN KETAMPANAN

1.     Menjadi guru itu gampang-gampang susah. Juga berperan sebagai orang tua kedua bagi murid.
2.     Sekolah mempunyai peraturan yang berbeda dengan sekolah lain.
3.     Beberapa siswa mengeluh karena dianggap anak-anak bermasalah karena potongan rambut yang terlalu cepak.
4.     Aturan sekolah lebih cenderung peraturan yang berkaitan dengan sikap dan kedisiplinan.
5.     Perusahaan lebih menyukai lulusan yang punya attitude baik.
6.     Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam melatih kedisiplinan anak.
7.     Para siswa mempunyai definisi sendiri tentang apa yang disebut “keren”.
8.     Kerja sama anatara wali murid, wali kelas, dan guru BK sangat dibutuhkan untuk menangani masalah anak.


REFLEKSI :
Siswa yang bermasalah tidak serta merta dijustifikasi sebagai anak nakal. Mungkin mereka sedikit membutuhkan perhatian yang lebih. Orang tua, wali murid, dan guru BK harus bijak dalam menangani siswa yang bermasalah, karena pada dasarnya setiap individu itu unik. tata tertib sekolah harus menitikberatkan pada pembentukan mental dan attitude yang baik. Akan percuma jika siswa berprestasi tinggi tapi tidak punya sopan santun.


BAB III
KETIKA KENYATAAN TAK SEMANIS RANYUAN MANT

1.     Belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Conditioning Pavlov.
2.     Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
3.     Keinginan dari dalam diri sendirilah yang memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan dan reaksi apa yang akan dilakukan.
4.     Penerapan reward dan punishment, reward sebagai apresiasi dan punishment sebagai motivasi.

REFLEKSI :
Yang diajarkan oleh seorang guru juga harus realita bukan hanya teori atau teksbook. Memotivasi siswa untuk menyiapkan diri bahwa dikehidupan setelah sekolah kadang tidak semudah apa yang dibayangkan. Kedisiplinan dan pantang menyerah haruslah dimiliki setiap siswa jika ingin impiannya tercapai.


BAB IV
TUNGGANGAN BERBANDING LURUS DENGAN GEBETAN

1.     Definisi keren menurut murid-murid adalah dengan melanggar aturan.
2.     Murid-murid harus mempunyai filter dalam menonton atau membaca sesuatu.
3.     Penggunaan media sosial harus terkontrol dengan baik.
4.     Kelas cowok cenderung susah diatur, lebih kompak, tidak terlalu banyak komentar, tidak gampang sakit hati jika ditegur.
5.     Kelas cewek cenderung lebih mudah diatur, bersih dan rapi, kurang kompak, lebih peka (gampang tersinggung).
6.     Jika ada masalah dengan sesama murid harus diselesaikan bersama-sama dengan wali kelas.
7.     Siswa baru sadar ketika sudah melihat bukti langsung dari lingkungan yang terdekat.
8.     Terkenal karena prestasi jauh lebih bertahan lama dari pada terkenal karena sensasi.

REFLEKSI :
Semua masalah sebenarnya bisa diatasi, asal ada kerjasama yang baik antara siswa dengan pihak terkait. Selain itu, peran guru untuk mengarahkan siswa agar belajar menyelesaikan masalahnya. Masalah-masalah yang dialami dijadikan pembelajaran agar di masa depan nanti, mereke tidak melakukan kesalahan yang sama.


BAB V
MUNGKIN MEREKA LELAH

1.     Pemberian tugas tanpa memperhatikan keadaan dan kemampuan anak, itu kurang sesuai dan mungkin akan membuat anak stres.
2.     Pengaturan kelompok bisa menjadi solusi untuk meringankan beban tugas siswa dan melatih kerja sama.
3.     Petingnya koordinasi antara guru-guru mata pelajaran dalam menyampaikan tugas untuk siswa.
4.     Hukuman untuk siswa sebaiknya cenderung mengarah pada sesuatu yang membuat mereka “sibuk”

REFLEKSI :
Guru-guru yang mengampu mata pelajaran serumpun sebaiknya berkoordinasi dalam pemberian tugas kepada siswa. Sehingga pemahaman siswa bisa lebih komprehensif terhadap suatu pelajaran. Karena pada dasarnya mata pelajaran di sekolah itu saling terkait dan saling mendukung.


BAB VI
LDR DENGAN GURUKU

1.     Penggunaan aplikasi media sosial untuk pembelajaran jarak jauh.
2.     Modul beserta latihan bisa dikopi siswa untuk belajar secara mandiri.
3.     Menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
4.     Menciptakan susasana pembelajaran yang berbeda-beda untuk menghindarkan siswa dari kejenuhan.

REFLEKSI :
Guru juga harus uptodate. Bijak dalam memanfaatkan media sosial. Salah satunya bisa memberika tugas kepada siswa dengan berselancar di internet. Atau mengerjakan dan mengirimkan tugas via aplikasi yang ada di smartphone. Sekolah pun harus mendukung, integrasi tekonologi informasi dan komunikasi saat ini harus diaplikasikan pada proses pembelajaran di sekolah. Dukungan sarana dan prasarana mutlak dilaksanakan.


BAB VII
FUN LEARNING UNTUK PELAJAR ZAMAN NOW

1.     Guru harus berinovasi dalam pembelajaran di kelas.
2.     Siswa akan lebih fokus dalam belajar jika dalam keadaan rileks.
3.     Mengembalikan konsentrasi siswa bisa dilakukan dengan melakukan game konsentrasi.
4.     Pada dasarnya siswa lebih mempercayai apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
5.     Bermain (game) bisa menjadi sarana melatih keterampilan yang dibutuhkan murid untuk memahami pelajaran.
6.     Murid zaman sekarang lebih menyukai cara belajar fun learning dan interaktif.

REFLEKSI :
Guru perlu memotivasi diri untuk semakin menyukai beragam permainan sebagai salah satu media dalam pembelajaran. Kreatif dan inovatif dalam menciptakan susana belajar agar siswa lebih fokus dan lebih mudah menerima materi pelajaran. Menjadi guru kadang menyebalkan, tetapi lebih menyenangkan. Bukan hanya murid yang belajar kepada guru, tetapi guru juga belajar dari murid. Tiada kebahagiaan yang dirasakan guru kecuali melihat anak-anak didiknya berhasil mencapai impian mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar