RESUME BUKU
1.
Judul
Buku : GURU NOW UNTUK KIDS ZAMAN NOW
2.
Penulis : Alifiana Nufi
3.
Editor : Tim Editor
4.
Desain
Sampul : Amalia Asrari
5.
Penerbit : DIVA Press
6.
Alamat
Penerbit :Sampangan Gg. Perkutut
No. 325-B Jl. Wonoasri
Baturetno Banguntapan Yogyakarta
7.
Tahun
Terbit : 2018
8.
Jumlah
Halaman : 64 halaman, 7 Bab
9.
Cetakan : Pertama
BAB I
UCAPAN DOSEN YANG
MENGGELITIK HATI
1.
Menjadi
guru memang bukan pilihan utama setelah lulus dari SMA.
2.
Menjalani
kuliah dengan setengah hati, karena belum rela menjadi guru.
3.
Jaranng
ada anak dengan peringkat atas yang mau menjadi guru.
4.
Peringkat
tidak menjamin kepintaran orang dalam menyampaikan pelajaran.
5.
Profesi
guru di negara maju yang dipilih adalah orang-orang dengan peringkat atas.
6.
Setiap
tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru.
REFLEKSI :
Menjadi
guru adalah pekerjaan pengadian, maka dibutuhkan motivasi yang kuat untuk
menjalaninya. Jika profesi guru dilaksanakan hanya untuk “tidak mengganggur”,
hasilnya ya biasa-biasa saja, mungkin cenderung merugikan sekolah tempat
mengajarnya. Guru harus punya sumbangsih yang signifikan minimal pada tempat ia
mengajar, lebih-lebih prestasi yang bisa mengharumkan nama negara dan bangsa.
BAB II
MOTOR NINJA
MENINGKATKAN KETAMPANAN
1.
Menjadi
guru itu gampang-gampang susah. Juga berperan sebagai orang tua kedua bagi
murid.
2.
Sekolah
mempunyai peraturan yang berbeda dengan sekolah lain.
3.
Beberapa
siswa mengeluh karena dianggap anak-anak bermasalah karena potongan rambut yang
terlalu cepak.
4.
Aturan
sekolah lebih cenderung peraturan yang berkaitan dengan sikap dan kedisiplinan.
5.
Perusahaan
lebih menyukai lulusan yang punya attitude baik.
6.
Peran
orang tua sangat dibutuhkan dalam melatih kedisiplinan anak.
7.
Para
siswa mempunyai definisi sendiri tentang apa yang disebut “keren”.
8.
Kerja
sama anatara wali murid, wali kelas, dan guru BK sangat dibutuhkan untuk
menangani masalah anak.
REFLEKSI :
Siswa
yang bermasalah tidak serta merta dijustifikasi sebagai anak nakal. Mungkin mereka
sedikit membutuhkan perhatian yang lebih. Orang tua, wali murid, dan guru BK
harus bijak dalam menangani siswa yang bermasalah, karena pada dasarnya setiap
individu itu unik. tata tertib sekolah harus menitikberatkan pada pembentukan
mental dan attitude yang baik. Akan percuma jika siswa berprestasi tinggi tapi
tidak punya sopan santun.
BAB III
KETIKA KENYATAAN TAK
SEMANIS RANYUAN MANT
1.
Belajar
adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat
(conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Conditioning Pavlov.
2.
Pengulangan
dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi
kebiasaan.
3.
Keinginan
dari dalam diri sendirilah yang memegang peranan dalam memilih dan menentukan
perbuatan dan reaksi apa yang akan dilakukan.
4.
Penerapan
reward dan punishment, reward sebagai apresiasi dan punishment sebagai
motivasi.
REFLEKSI :
Yang
diajarkan oleh seorang guru juga harus realita bukan hanya teori atau teksbook.
Memotivasi siswa untuk menyiapkan diri bahwa dikehidupan setelah sekolah kadang
tidak semudah apa yang dibayangkan. Kedisiplinan dan pantang menyerah haruslah
dimiliki setiap siswa jika ingin impiannya tercapai.
BAB IV
TUNGGANGAN
BERBANDING LURUS DENGAN GEBETAN
1.
Definisi
keren menurut murid-murid adalah dengan melanggar aturan.
2.
Murid-murid
harus mempunyai filter dalam menonton atau membaca sesuatu.
3.
Penggunaan
media sosial harus terkontrol dengan baik.
4.
Kelas
cowok cenderung susah diatur, lebih kompak, tidak terlalu banyak komentar,
tidak gampang sakit hati jika ditegur.
5.
Kelas
cewek cenderung lebih mudah diatur, bersih dan rapi, kurang kompak, lebih peka
(gampang tersinggung).
6.
Jika
ada masalah dengan sesama murid harus diselesaikan bersama-sama dengan wali
kelas.
7.
Siswa
baru sadar ketika sudah melihat bukti langsung dari lingkungan yang terdekat.
8.
Terkenal
karena prestasi jauh lebih bertahan lama dari pada terkenal karena sensasi.
REFLEKSI :
Semua
masalah sebenarnya bisa diatasi, asal ada kerjasama yang baik antara siswa
dengan pihak terkait. Selain itu, peran guru untuk mengarahkan siswa agar
belajar menyelesaikan masalahnya. Masalah-masalah yang dialami dijadikan
pembelajaran agar di masa depan nanti, mereke tidak melakukan kesalahan yang
sama.
BAB V
MUNGKIN MEREKA LELAH
1.
Pemberian
tugas tanpa memperhatikan keadaan dan kemampuan anak, itu kurang sesuai dan
mungkin akan membuat anak stres.
2.
Pengaturan
kelompok bisa menjadi solusi untuk meringankan beban tugas siswa dan melatih
kerja sama.
3.
Petingnya
koordinasi antara guru-guru mata pelajaran dalam menyampaikan tugas untuk
siswa.
4.
Hukuman
untuk siswa sebaiknya cenderung mengarah pada sesuatu yang membuat mereka
“sibuk”
REFLEKSI :
Guru-guru
yang mengampu mata pelajaran serumpun sebaiknya berkoordinasi dalam pemberian
tugas kepada siswa. Sehingga pemahaman siswa bisa lebih komprehensif terhadap
suatu pelajaran. Karena pada dasarnya mata pelajaran di sekolah itu saling
terkait dan saling mendukung.
BAB VI
LDR DENGAN GURUKU
1.
Penggunaan
aplikasi media sosial untuk pembelajaran jarak jauh.
2.
Modul
beserta latihan bisa dikopi siswa untuk belajar secara mandiri.
3.
Menciptakan
suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan dekat dengan kehidupan
sehari-hari siswa.
4.
Menciptakan
susasana pembelajaran yang berbeda-beda untuk menghindarkan siswa dari
kejenuhan.
REFLEKSI :
Guru
juga harus uptodate. Bijak dalam memanfaatkan media sosial. Salah satunya bisa
memberika tugas kepada siswa dengan berselancar di internet. Atau mengerjakan
dan mengirimkan tugas via aplikasi yang ada di smartphone. Sekolah pun harus
mendukung, integrasi tekonologi informasi dan komunikasi saat ini harus
diaplikasikan pada proses pembelajaran di sekolah. Dukungan sarana dan
prasarana mutlak dilaksanakan.
BAB VII
FUN LEARNING UNTUK
PELAJAR ZAMAN NOW
1.
Guru
harus berinovasi dalam pembelajaran di kelas.
2.
Siswa
akan lebih fokus dalam belajar jika dalam keadaan rileks.
3.
Mengembalikan
konsentrasi siswa bisa dilakukan dengan melakukan game konsentrasi.
4.
Pada
dasarnya siswa lebih mempercayai apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka
dengar.
5.
Bermain
(game) bisa menjadi sarana melatih keterampilan yang dibutuhkan murid untuk
memahami pelajaran.
6.
Murid
zaman sekarang lebih menyukai cara belajar fun learning dan interaktif.
REFLEKSI :
Guru
perlu memotivasi diri untuk semakin menyukai beragam permainan sebagai salah
satu media dalam pembelajaran. Kreatif dan inovatif dalam menciptakan susana
belajar agar siswa lebih fokus dan lebih mudah menerima materi pelajaran.
Menjadi guru kadang menyebalkan, tetapi lebih menyenangkan. Bukan hanya murid
yang belajar kepada guru, tetapi guru juga belajar dari murid. Tiada
kebahagiaan yang dirasakan guru kecuali melihat anak-anak didiknya berhasil
mencapai impian mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar